Okay, let's start..
Sebelumnya, saya membahas soal hijab ini bukan karena sedang terbawa atmosfir ramadhan yang begitu kuat, tetapi ada seperti sebuah kerinduan untuk berbagi dengan yang membaca blog ini (kaya banyak aja yang baca hehe..).
Hijab/krudung/jilbab yahh apapun sebutannya, bagi saya sudah tidak asing lagi. Meskipun saya berasal bukan dari keluarga islam yang fanatik, tapi keluarga saya memegang teguh semua ajaran agama Allah ini. Saya sudah "bersahabat" dengan hijab sejak kelas 2 SMA (fyi, saat saya posting tulisan ini, saya alhamdulillah sudah semester 5).
Saat memutuskan untuk berhijab, saya melewati proses yang sama sekali tidak mudah. Dulu, sejak SMP, saya paling tidak betah pakaian yang panjang-panjang, jangankan pakai hijab, berbaju lengan panjang dan memakai celana panjang pun amat jarang. Bukan karena saya ingin tampil seksi atau sengaja mengumbar aurat, tapi sejak kecil, saya memiliki alergi pada keringat sendiri, kulit saya tidak bisa mentoleransi jika saya sedang banyak mengeluarkan keringat. Jika itu terjadi, pasti satu badan akan memerah dan gatal, hal tersebut yang membuat saya amat tidak betah dengan baju-baju/pakaian yang panjang.
Pada saat ini, alergi tersebut menjadi pertimbangan saya, karena berhijab bukan hanya sebagai perintah, tapi bagaimana kita belajar berkomitmen dengan Sang Pencipta. Hampir setiap malam, saya melakukan hal yang menurut saya agak "nyeleneh". Setiap malam, saya selalu berdiri di depan kaca dan menggunakan hijab. Saya berkaca lama sekali. Saya melakukan ini sebagai proses pemantapan lahir batin, apakah saya sudah benar-benar siap untuk memegang komitmen ini. Saya terus memastikan dan coba meyakinkan diri bahwa saya pantas dan masih terlihat cantik dengan hijab (hal ini karena papa sering sekali meledekku dengan "muka lebar" aku sedang menggunakan hijab hehe). Saya terus beradaptasi selama hampir dua bulan sebelum memantapkan sikap untuk berhijab.
Saya lupa persisnya kapan, yang saya ingat waktu saya menyampaikan niatan untuk berhijab pada orang tua saya sewaktu akhir pekan. Papa setuju, tetapi ada pertanyaan evaluatif yang lumayan menggelitik. " Papa sih setuju bangt kamu pake jilbab, tapi, apa kamu udah bener-bener yakin? jilbabmu itu bakal nempel seumur hidup lho.." . Penyataan sekaligus pertanyaan papa sempat membuat saya berpikir sejenak, tetapi dengan mantap saya menjawab kalau saya inshaallah dapat menjalankan ini semua dengan baik. Istilahnya, ini kan Alah yang suruh, pasti Allah juga yang akan beri jalan dan kekuatan dan Allah selalu beserta orang-orang yang memiliki niatan yang baik.
Dan yakk, bismillah saya menjalani kehidupan dengan berhijab. Tahun pertama, saya masih sangat bersemangat dan amat sangat menjaga hijab saya. Tetapi, cobaan keimanan akan komitmen saya mulai diuji ketika saya ulai masuk dunia kuliah. Dunia yang pada saat itu saya berada dalam fase usia "remaja labil". Saya melihat teman-teman saya yang tidak berijab dan sering sekali nyeletuk, "Tuhkan, cantik-cantik banget yang ga berhijab. Bisa gaya dan berpakaian bebas. Ga ribet padu-padan baju. Cukup kaos, celana jeans, dan rambut terurai udah bisa ke kampus, sedangkan gue? harus ribet mantesin baju baru bisa ke kampus, udah gitu selalu kelihatan lebih tua dan kaya ibu-ibu". Astagfirullah. Hal tersebut berjalan hingga setahun saya kuliah. Terkadang kuat sekali keinginan untuk menanggalkan hijab, tetapi entah kenapa, rasanya sulit sekali, seperti dicegah ribuan malaikat agar saya tidak melepaskan komitmen saya dengan Allah.
Cobaan itu tidak lepas begitu saja. Saya sering sekali dihantui bisikan syaitan agar menanggalkan hijab saya karena tergiur dengan mode berpakaian yang sedang tren. Saya juga selalu dihantui dengan pikiran, bagaimana jika nantinya saya sulit dapat kerjaan karena saya pertahankan hijab saya. Astaghfirullah, sekuat itu syaitan menggoda saya.
Tapi puji syukur pada Allah, Allah masih melindungi saya. Allah masih melindungi niat dan komitmen saya kepadaNya. Meskipun sampai saat ini, hijab yang saya kenakan belumlah menjadi hijab yang sempurna, tetapi setidaknya, saya masih bertahan dan akan terus bertahan pada komitmen awal bahwa saya ingin besyukur atas semua nikmat yang Allah berikan, oleh karena itu, saya merasa wajib untuk berterima kasih padaNya dengan melakukan perintah sebagai seorang muslimah yaitu dengan berhijab. Sampai saat ini pula, saya masih terus mengintrospeksi dan sungguh-sungguh mengkoreksi diri. Apakah saya sudah sungguh-sungguh berhijab lahir batin? Apakah dengan seperti ini saya sudah menyenangkanNya? Apakah hijab yang saya pakai sudah sempurna menutup aurat dan juga menutup perilaku saya dari perilaku yang Dia benci?. Wallahu'alam, sebagai manusia saya hanya bisa melakukan yang terbaik dari diri saya, sambil teruk memperbaiki dari kesalahan-kesalahan atau kekeliruan yang sudah saya lakukan.
Di bulan yang amat sangat diberkahi olehNya, saya hanya bisa terus berdoa agar Allah senantiasa memberikan kekutan untuk mengenakan hijab ini seumur hidup saya dan Allah juga senantiasa memberikan kekuatan agar saya dapat senantiasa mampu mengintrospeksi diri agar senantiasa dapat merubah segala sesuatu yang masih salah ataupun keliru.

0 comments:
Post a Comment