Papa mama ku memang sangat berbeda dalam menunjukan rasa sayangnya padaku. Mama, selalu melatihku untuk kuat dan senantiasa mandiri, juga selalu berani dalam melakukan atau memilih sesuatu. Mama selalu mempercayakan bahwa aku dapat melangkah dengan kakiku sendiri, meskipun kaki ini masih terlalu rapuh untuk melewati perjalanan kehidupanku yang masih amat sangat panjang. Hal ini dilakukan mama, karena beliau yakin akan kemampuanku. Beliau percaya, bahwa anak perempuannya yang sudah beranjak dewasa sudah dapat memilih dan menentukan jalannya sendiri.
Sedangkan papa, beliau adalah sosok yang amat sangat protektif terhadap anak-anaknya, terutama aku. Beliau, mungkin sampai saat ini, masih beranggapan aku adalah gadis kecilnya yang berkuncir dua dan masih menenteng botol susu. Sekedar info, saat ini, aku sudah berusia 9thn dan akan segera beranjak menjadi 20thn dan aku adalah anak pertama beliau ^_^. Anyway, itulah papaku. Beliau masih amat sangat mengatur sekali setiap langkahku. Mata beliau masih setajam seperti saat memperhatikanku pada saat aku mulai belajar berjalan sewaktu aku balita. Selain itu, beliau juga memiliki sikap demokratis. Tetapi lagi-lagi, sikap demokratisnya bersyarat, yaitu, beliau tidak ingin kebebasan yang beliau kasih membuatku memforsir dan membuatku sakit. Beliau akan amat sangat marah besar ketika aku sakit karena kebanyakan beraktifitas. Sampai-sampai pernah suatu hari beliau benar-benar marah ketika aku sakit karena aku diet mati-matian padahal aku memiliki banyak kegiatan. Semenjak saat itu, beliau melarang keras untuk aku diet berlebihan.
Untuk saat ini pun, beliau masih sangat mengkontrol setiap kegiatanku, baik di kampus maupun di luar kampus. Beliau pun tak segan-segan melarangku berpergian di waktu-waktu tertentu. Hingga saat ini pun, beliau masih selalu mengantarku ke kampus sebelum beliau berangkat bekerja.
Teman-teman seusiaku mungkin sudah banyak yang dibebaskan untuk melakukan apa saja, dimana saja dan kapan saja tanpa peerlu senantiasa memberi kabar pada orang tua. Tapi tidak begitu dengan papaku. Terkadang, aku pulang sedikit lebih terlambat saja, biasanya papa sudah menyiapkan banyak pertanyaan mengapa aku bisa pulang terlambat.
Dari berjuta sikap protektif papa, ada satu hal yang selalu berhasil membuatku terharu dan ingin sekali rasanya mendekap erat beliau, yaitu, sikapnya jika aku sakit. Beliau pasti orang pertama yang akan terlihat panik. Tindakan pertama beliau adalah, memijat kepala hingga kaki ku sampai aku merasa lebih nyaman. Selesai memijat, biasanya beliau mengusap punggung dan kepalaku, lalu mencium hangat keningku. Ahh rasanya, membuatku jauh lebih nyaman dibandingkan harus meminum beberapa jumlah obat.
Aku bangga sekaligus bahagia. Bahagia untuk tetap dianggap gadis kecil papa yang senantiasa membutuhkan pertolongan beliau. Beliau orang pertama yang akan marah jika tahu aku menangis karena seseorang, dan aku mensyukuri itu. Mensyukuri atas kecintaan papa padaku.
Andai bisa kubalas semuanya nanti, pasti akan ku lakukan semua yang terbaik untukmu. Sejak saat ini aku sudah mencicil sedikit demi sedikit membuatmu tersenyum sebagai balas baktiku.
Allah,berikan papa umur yang panjang dan penuh keberkahan agar beliau dapat merasakan balas baktiku nanti. Aku beryukur untuk papa yang super hebat ini ya Allah. Kuatkan langkahku untuk selalu membahagiakannya. Amin.
I LOVE YOU,PA :*

0 comments:
Post a Comment