RSS

Saturday, August 6, 2011

Bersyukur

Disaat perjalanan kekampus pagi ini. Aku yang diantar papa menggunakan sepeda motor, biasanya disepanjang perjalanan, aku hanya melamun dan melihat-lihat keadaan yang sangat lengang di pagi hari. Tapi entah kenapa, pagi ini aku merasakan sekali perbedaan. Otakku berputar tak menentu. Lari dari pemikiran yang satu, ke pemikiran yang lain. Mencoba menguraikan suatu permasalahan, tetapi aku merasa semakin kacau. Biasanya, pemikiranku yang berlarian seperti ini mampu mempengaruhi mood ku. Aku mendadak menjadi tidak bersemangat sama sekali. Aku seperti terjebak dalam lingkaran yang aku sendiri sulit untuk memahami jalan keluarnya.
Masih di perjalananku menuju kampus bersama papa. Aku mencoba menenangkan segala hal yang berada di pusat pemikiranku. Kutarik perlahan nafasku seraya mengucap astagfirullah, dan aku lakukan itu sebanyak 3x.
Allah memang Maha Baik, sekejap perasaanku kembali tenang dan semua dapat kukendalikan.

Tiba-tiba, terbersit sebuah kata, bersyukur.
Rupanya, yang mengganggu hati dan pikiranku adalah rasa ketidakpuasanku dan rasa kecewaku terhadap apa yang terjadi di kehidupanku belakangan ini.
Banyak sekali hal-hal yang menurutku tidak adil. Aku merasa, aku tidak pernah meraih dan mendapatkan apa yang memang aku inginkan.
Aku menginginkan keluarga yang utuh dan bahagia, tapi apa, Allah hanya memberiku keluarga yang sudah tercerai berai, bahkan aku jarang sekali bertemu dengan mama.
Aku menginginkan materi berlebih seperti kawan-kawanku yang lain, tapi apa, Allah hanya memberiku uang saku pas-pasan yang berasal dari orang tuaku.
Aku menginginkan memiliki banyak sahabat-sahabat yang selalu mengerti dan selalu ada di setiap saat aku butuhkan, tapi apa, Allah hanya memberikan beberapa sahabat yang mau mengerti aku.
Aku menginginkan memiliki kekasih yang sangat terlihat sempurna di mataku, tapi apa, Allah memberikan kekasih yang menurutku masih banyak celah untuk kujadikan masalah.
Ternyata, ini yang sedang berlarian di otakku. Sebuah sikap tidak bersyukur sekaligus aku berburuk sangka pada Sang Pencipta.

Sekejap, aku kembali tersadar bahwa Allah selalu memiliki rencana yang maha sempurna dibalik segala tuntutan yang menurutku Allah tak pernah mendengarnya.
Aku diberikan keluarga yang tidak sempurna, kaerna Allah menginginkanku belajar dari kesalahan orang tuaku sehingga nanti disaat aku berumah tangga, aku tidak akan mengulang kesalahan dan kekhilafan orang tuaku.
Aku diberikan materi yang tidak sempurna, karena Allah ingin mengajarkanku bagaimana cara mengatur keuangan yang baik sehingga aku menjadi pribadi yang tidak konsumtif dan bersifat suka berfoya-foya.
Aku diberikan sahabat-sahabat yang tidak sempurna, karena Allah menginginkan agar aku lebih ikhlasa dalam berteman dan rela menerima apapun dan bagaimanapun keadaan mereka.
Dan aku diberikan kekasih yang tidak sempurna, karena Allah ingin melihat sekuat apa niatku dalam menyayangi laki-laki yang sudah amat menyayangiku dan bagaimana aku dapat melihat segala kebaikannya dengan sempurna.

Ya, begitulah cara Allah. Cara Allah memberikan kebahagiaan untuk ummat nya lewat semua rencananya. Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dia lah perancang terhebat yang mampu memberikan kebahagiaan yang panjang, tak berujung dan tidak mencelakakan di akhirnya.

Pada akhirnya, aku kembali pada setiap rancanganNya. Kembali ku parahkan segala harapku. Memoon maaf    atas segala keburuk sangkaan yang sudah kutujukan padaNya.

Kawan, bersyukurlah untuk segala yang terjadi. Memang, hal tersebut amat sangat tidak mudah. Tapi percayalah, dengan bersyukur kita akan merasa jauh lebih "hidup" :)

0 comments:

Post a Comment