RSS

Monday, August 8, 2011

Kado untukmu, ke :)

Tepat jam 00.30 , kita sekeluarga sukses bikin kejutan kecil-kecilan plus nyanyiin happy birthday buat si bocah yang semakin beranjak abege. Sebenernya simple, cuma kasih kejutan kue tart dari papa sama kado kecil dari kakaknya yang paling besar ini, udah sukses bikin dia speechless dan salah tingkah. Hehe kami maklumi ko, sayang.
Se-simple kado yang aku beri (aku kasih dia jam tanga Hello Kitty berwarna pink, warna kesukannya), aku hanya mengharapkan kamu menjadi pribadi yang lebih disiplin lagi dalam kehidupan. Doaku pada Allah di hari ulang tahunmu, semoga kamu diberi umur yang barokah, sehat slalu, bahagia dunia akhirat dan kelak menjadi pribadi yang jauh lebih hebat dibanding kami.
Aku tahu ke, kamu sedang beranjak remaja dan merasakan manisnya masa-masa remajamu, tapi aku sebagai kakak hanya ingin kamu lebih hati-hati dan waspada dalam pergaulan Umurmu semakin dewasa, semoga kamu menjadi semakin memahami setiap peringatan atau nasihat yang papa,mbah dan aku beri. pada dasarnya, kami melakukan itu semua, karena kami sayang sama kamu dan mau kamu jadi anak yang semakin baik.
Mungkin 2thn terakhir ini menjadi ulang tahunmu yang kurang sempurna karena hal-hal di keluarga kita, tapi percayalah, kami akan lakukan semua hal untukmu semaksimal mungkin dan semampu kami. Kami akan selalu bekerjasama untuk memberikan segala yang terbaik untukmu.
Bertambah dewasalah kamu seiring dengan bertambahnya usiamu, ke. Aku akan selalu berdoa, agar Allah selalu membimbing langkah kecilmu untuk mencari ridha Allah. Oh iya, semoga kamu terus bertahan dengan jilbabmu ya sayang.

With love,

Mbak kiki :)
Read Comments

Hijabku

Heem..sebelumnya, pengen bikin tulisan di blog ini ga sekaku postingan sebelumnya. So, i will change the structure and make it more simple :)

Okay, let's start..

Sebelumnya, saya membahas soal hijab ini bukan karena sedang terbawa atmosfir ramadhan yang begitu kuat, tetapi ada seperti sebuah kerinduan untuk berbagi dengan yang membaca blog ini (kaya banyak aja yang baca hehe..).
Hijab/krudung/jilbab yahh apapun sebutannya, bagi saya sudah tidak asing lagi. Meskipun saya berasal bukan dari keluarga islam yang fanatik, tapi keluarga saya memegang teguh semua ajaran agama Allah ini. Saya sudah "bersahabat" dengan hijab sejak kelas 2 SMA (fyi, saat saya posting tulisan ini, saya alhamdulillah sudah semester 5).
Saat memutuskan untuk berhijab, saya melewati proses yang sama sekali tidak mudah. Dulu, sejak SMP, saya paling tidak betah pakaian yang panjang-panjang, jangankan pakai hijab, berbaju lengan panjang dan memakai celana panjang pun amat jarang. Bukan karena saya ingin tampil seksi atau sengaja mengumbar aurat, tapi sejak kecil, saya memiliki alergi pada keringat sendiri, kulit saya tidak bisa mentoleransi jika saya sedang banyak mengeluarkan keringat. Jika itu terjadi, pasti satu badan akan memerah dan gatal, hal tersebut yang membuat saya amat tidak betah dengan baju-baju/pakaian yang panjang.
Pada saat ini, alergi tersebut menjadi pertimbangan saya, karena berhijab bukan hanya sebagai perintah, tapi bagaimana kita belajar berkomitmen dengan Sang Pencipta. Hampir setiap malam, saya melakukan hal yang menurut saya agak "nyeleneh". Setiap malam, saya selalu berdiri di depan kaca dan menggunakan hijab. Saya berkaca lama sekali. Saya melakukan ini sebagai proses pemantapan lahir batin, apakah saya sudah benar-benar siap untuk memegang komitmen ini. Saya terus memastikan dan coba meyakinkan diri bahwa saya pantas dan masih terlihat cantik dengan hijab (hal ini karena papa sering sekali meledekku dengan "muka lebar" aku sedang menggunakan hijab hehe). Saya terus beradaptasi selama hampir dua bulan sebelum memantapkan sikap untuk berhijab.
Saya lupa persisnya kapan, yang saya ingat waktu saya menyampaikan niatan untuk berhijab pada orang tua saya sewaktu akhir pekan. Papa setuju, tetapi ada pertanyaan evaluatif yang lumayan menggelitik. " Papa sih setuju bangt kamu pake jilbab, tapi, apa kamu udah bener-bener yakin? jilbabmu itu bakal nempel seumur hidup lho.." . Penyataan sekaligus pertanyaan papa sempat membuat saya berpikir sejenak, tetapi dengan mantap saya menjawab kalau saya inshaallah dapat menjalankan ini semua dengan baik. Istilahnya, ini kan Alah yang suruh, pasti Allah juga yang akan beri jalan dan kekuatan dan Allah selalu beserta orang-orang yang memiliki niatan yang baik.
Dan yakk, bismillah saya menjalani kehidupan dengan berhijab. Tahun pertama, saya masih sangat bersemangat dan amat sangat menjaga hijab saya. Tetapi, cobaan keimanan akan komitmen saya mulai diuji ketika saya ulai masuk dunia kuliah. Dunia yang pada saat itu saya berada dalam fase usia "remaja labil". Saya melihat teman-teman saya yang tidak berijab dan sering sekali nyeletuk, "Tuhkan, cantik-cantik banget yang ga berhijab. Bisa gaya dan berpakaian bebas. Ga ribet padu-padan baju. Cukup kaos, celana jeans, dan rambut terurai udah bisa ke kampus, sedangkan gue? harus ribet mantesin baju baru bisa ke kampus, udah gitu selalu kelihatan lebih tua dan kaya ibu-ibu". Astagfirullah. Hal tersebut berjalan hingga setahun saya kuliah. Terkadang kuat sekali keinginan untuk menanggalkan hijab, tetapi entah kenapa, rasanya sulit sekali, seperti dicegah ribuan malaikat agar saya tidak melepaskan komitmen saya dengan Allah.
Cobaan itu tidak lepas begitu saja. Saya sering sekali dihantui bisikan syaitan agar menanggalkan hijab saya karena tergiur dengan mode berpakaian yang sedang tren. Saya juga selalu dihantui dengan pikiran, bagaimana jika nantinya saya sulit dapat kerjaan karena saya pertahankan hijab saya. Astaghfirullah, sekuat itu syaitan menggoda saya.
Tapi puji syukur pada Allah, Allah masih melindungi saya. Allah masih melindungi niat dan komitmen saya kepadaNya. Meskipun sampai saat ini, hijab yang saya kenakan belumlah menjadi hijab yang sempurna, tetapi setidaknya, saya masih bertahan dan akan terus bertahan pada komitmen awal bahwa saya ingin besyukur atas semua nikmat yang Allah berikan, oleh karena itu, saya merasa wajib untuk berterima kasih padaNya dengan melakukan perintah sebagai seorang muslimah yaitu dengan berhijab. Sampai saat ini pula, saya masih terus mengintrospeksi dan sungguh-sungguh mengkoreksi diri. Apakah saya sudah sungguh-sungguh berhijab lahir batin? Apakah dengan seperti ini saya sudah menyenangkanNya? Apakah hijab yang saya pakai sudah sempurna menutup aurat dan juga menutup perilaku saya dari perilaku yang Dia benci?. Wallahu'alam, sebagai manusia saya hanya bisa melakukan yang terbaik dari diri saya, sambil teruk memperbaiki dari kesalahan-kesalahan atau kekeliruan yang sudah saya lakukan.

Di bulan yang amat sangat diberkahi olehNya, saya hanya bisa terus berdoa agar Allah senantiasa memberikan kekutan untuk mengenakan hijab ini seumur hidup saya dan Allah juga senantiasa memberikan kekuatan agar saya dapat senantiasa mampu mengintrospeksi diri agar senantiasa dapat merubah segala sesuatu yang masih salah ataupun keliru.

Read Comments

Saturday, August 6, 2011

Daddy's girl.

Aku bukan berasal dari keluarga yang utuh. Sejak keputusan cerai papa mama ku, hak asuh atasku jatuh kepada papa yang pengasuhannya diserahkan pada nenek dan kakekku dari papa. Otomatis, aku menjadi lebih dekat dengan papa dan keluarga dari pihak papa. Meskipun terpisah demikian rupa, aku pun tidak pernah kehilangan sosok dan perhatian mama. Beliau masih setia mendampingiku juga hingga saat ini.

Papa mama ku memang sangat berbeda dalam menunjukan rasa sayangnya padaku. Mama, selalu melatihku untuk kuat dan senantiasa mandiri, juga selalu berani dalam melakukan atau memilih sesuatu. Mama selalu mempercayakan bahwa aku dapat melangkah dengan kakiku sendiri, meskipun kaki ini masih terlalu rapuh untuk melewati perjalanan kehidupanku yang masih amat sangat panjang. Hal ini dilakukan mama, karena beliau yakin akan kemampuanku. Beliau percaya, bahwa anak perempuannya yang sudah beranjak dewasa sudah dapat memilih dan menentukan jalannya sendiri.
Sedangkan papa, beliau adalah sosok yang amat sangat protektif terhadap anak-anaknya, terutama aku. Beliau, mungkin sampai saat ini, masih beranggapan aku adalah gadis kecilnya yang berkuncir dua dan masih menenteng botol susu. Sekedar info, saat ini, aku sudah berusia 9thn dan akan segera beranjak menjadi 20thn dan aku adalah anak pertama beliau ^_^. Anyway, itulah papaku. Beliau masih amat sangat mengatur sekali setiap langkahku. Mata beliau masih setajam seperti saat memperhatikanku pada saat aku mulai belajar berjalan sewaktu aku balita. Selain itu, beliau juga memiliki sikap demokratis. Tetapi lagi-lagi, sikap demokratisnya bersyarat, yaitu, beliau tidak ingin kebebasan yang beliau kasih membuatku memforsir dan membuatku sakit. Beliau akan amat sangat marah besar ketika aku sakit karena kebanyakan beraktifitas. Sampai-sampai pernah suatu hari beliau benar-benar marah ketika aku sakit karena aku diet mati-matian padahal aku memiliki banyak kegiatan. Semenjak saat itu, beliau melarang keras untuk aku diet berlebihan.
Untuk saat ini pun, beliau masih sangat mengkontrol setiap kegiatanku, baik di kampus maupun di luar kampus. Beliau pun tak  segan-segan melarangku berpergian di waktu-waktu tertentu. Hingga saat ini pun, beliau masih selalu mengantarku ke kampus sebelum beliau berangkat bekerja.
Teman-teman seusiaku mungkin sudah banyak yang dibebaskan untuk melakukan apa saja, dimana saja dan kapan saja tanpa peerlu senantiasa memberi kabar pada orang tua. Tapi tidak begitu dengan papaku. Terkadang, aku pulang sedikit lebih terlambat saja, biasanya papa sudah menyiapkan banyak pertanyaan mengapa aku bisa pulang terlambat.

Dari berjuta sikap protektif papa, ada satu hal yang selalu berhasil membuatku terharu dan ingin sekali rasanya mendekap erat beliau, yaitu, sikapnya jika aku sakit. Beliau pasti orang pertama yang akan terlihat panik. Tindakan pertama beliau adalah, memijat kepala hingga kaki ku sampai aku merasa lebih nyaman. Selesai memijat, biasanya beliau mengusap punggung dan kepalaku, lalu mencium hangat keningku. Ahh rasanya, membuatku jauh lebih nyaman dibandingkan harus meminum beberapa jumlah obat.

Aku bangga sekaligus bahagia. Bahagia untuk tetap dianggap gadis kecil papa yang senantiasa membutuhkan pertolongan beliau. Beliau orang pertama yang akan marah jika tahu aku menangis karena seseorang, dan aku mensyukuri itu. Mensyukuri atas kecintaan papa padaku.
Andai bisa kubalas semuanya nanti, pasti akan ku lakukan semua yang terbaik untukmu. Sejak saat ini aku sudah mencicil sedikit demi sedikit membuatmu tersenyum sebagai balas baktiku.

Allah,berikan papa umur yang panjang dan penuh keberkahan agar beliau  dapat merasakan balas baktiku nanti. Aku beryukur untuk papa yang super hebat ini ya Allah. Kuatkan langkahku untuk selalu membahagiakannya. Amin.

I LOVE YOU,PA :*
Read Comments

Bersyukur

Disaat perjalanan kekampus pagi ini. Aku yang diantar papa menggunakan sepeda motor, biasanya disepanjang perjalanan, aku hanya melamun dan melihat-lihat keadaan yang sangat lengang di pagi hari. Tapi entah kenapa, pagi ini aku merasakan sekali perbedaan. Otakku berputar tak menentu. Lari dari pemikiran yang satu, ke pemikiran yang lain. Mencoba menguraikan suatu permasalahan, tetapi aku merasa semakin kacau. Biasanya, pemikiranku yang berlarian seperti ini mampu mempengaruhi mood ku. Aku mendadak menjadi tidak bersemangat sama sekali. Aku seperti terjebak dalam lingkaran yang aku sendiri sulit untuk memahami jalan keluarnya.
Masih di perjalananku menuju kampus bersama papa. Aku mencoba menenangkan segala hal yang berada di pusat pemikiranku. Kutarik perlahan nafasku seraya mengucap astagfirullah, dan aku lakukan itu sebanyak 3x.
Allah memang Maha Baik, sekejap perasaanku kembali tenang dan semua dapat kukendalikan.

Tiba-tiba, terbersit sebuah kata, bersyukur.
Rupanya, yang mengganggu hati dan pikiranku adalah rasa ketidakpuasanku dan rasa kecewaku terhadap apa yang terjadi di kehidupanku belakangan ini.
Banyak sekali hal-hal yang menurutku tidak adil. Aku merasa, aku tidak pernah meraih dan mendapatkan apa yang memang aku inginkan.
Aku menginginkan keluarga yang utuh dan bahagia, tapi apa, Allah hanya memberiku keluarga yang sudah tercerai berai, bahkan aku jarang sekali bertemu dengan mama.
Aku menginginkan materi berlebih seperti kawan-kawanku yang lain, tapi apa, Allah hanya memberiku uang saku pas-pasan yang berasal dari orang tuaku.
Aku menginginkan memiliki banyak sahabat-sahabat yang selalu mengerti dan selalu ada di setiap saat aku butuhkan, tapi apa, Allah hanya memberikan beberapa sahabat yang mau mengerti aku.
Aku menginginkan memiliki kekasih yang sangat terlihat sempurna di mataku, tapi apa, Allah memberikan kekasih yang menurutku masih banyak celah untuk kujadikan masalah.
Ternyata, ini yang sedang berlarian di otakku. Sebuah sikap tidak bersyukur sekaligus aku berburuk sangka pada Sang Pencipta.

Sekejap, aku kembali tersadar bahwa Allah selalu memiliki rencana yang maha sempurna dibalik segala tuntutan yang menurutku Allah tak pernah mendengarnya.
Aku diberikan keluarga yang tidak sempurna, kaerna Allah menginginkanku belajar dari kesalahan orang tuaku sehingga nanti disaat aku berumah tangga, aku tidak akan mengulang kesalahan dan kekhilafan orang tuaku.
Aku diberikan materi yang tidak sempurna, karena Allah ingin mengajarkanku bagaimana cara mengatur keuangan yang baik sehingga aku menjadi pribadi yang tidak konsumtif dan bersifat suka berfoya-foya.
Aku diberikan sahabat-sahabat yang tidak sempurna, karena Allah menginginkan agar aku lebih ikhlasa dalam berteman dan rela menerima apapun dan bagaimanapun keadaan mereka.
Dan aku diberikan kekasih yang tidak sempurna, karena Allah ingin melihat sekuat apa niatku dalam menyayangi laki-laki yang sudah amat menyayangiku dan bagaimana aku dapat melihat segala kebaikannya dengan sempurna.

Ya, begitulah cara Allah. Cara Allah memberikan kebahagiaan untuk ummat nya lewat semua rencananya. Allah yang paling tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dia lah perancang terhebat yang mampu memberikan kebahagiaan yang panjang, tak berujung dan tidak mencelakakan di akhirnya.

Pada akhirnya, aku kembali pada setiap rancanganNya. Kembali ku parahkan segala harapku. Memoon maaf    atas segala keburuk sangkaan yang sudah kutujukan padaNya.

Kawan, bersyukurlah untuk segala yang terjadi. Memang, hal tersebut amat sangat tidak mudah. Tapi percayalah, dengan bersyukur kita akan merasa jauh lebih "hidup" :)
Read Comments

Friday, August 5, 2011

Cita-cita

Cita-cita. Sebuah kata yang singkat, tetapi menurutku luas skali penafsirannya.
Bagiku, cita-cita adalah sebuah tahapan yang ingin dicapai dikemudian hari. Cita-citaku tak jauh dari angan-anganku. Mungkin kalau angan-angan masih ku toleransi seandainya tidak dapat ku raih, tetapi kalau cita-cita, aku harus dapat meraihnya.

Cita-cita menurtku seperti bintang. Berkerlip dan senantiasa bersinar meskipun disaat malam atau gelap gulita. Mengeluarkan cahayanya sendiri, sehingga setidaknya mampu menerangi meskipun tidak seterang cahaya bulan.
Berkelip dengan jutaan bintang  lain, tetapi pasti ada satu yang cahayanya jauh lebih terang dan indah.

Begitupun dengan cita-cita. Berkerlip dan bersinar, meskipun disaat raga dan semangat sedang redup atau bahkan nyaris padam. Mampu bercahaya sehingga dapat menerangi sudut hati yang nyaris menyerah dengan keadaan. Cita-cita juga pasti banyak terdapat pada setiap insan, tetapi pasti hanya satu atau beberapa yang cahayanya lebih kuat dan terang sehingga mampu menjadi alasan dan tujuan untuk tetap berjuang dan bertahan.

Yah, itulah cita-cita menurutku, kawan.
Sebanyak apapun cita-cita itu berkerlip, biarkanlah semua tetap berkerlip. Kuatkan satu cita-cita sebagai bintang terangmu, agar langkahmu semakin ringan untuk mencapainya :)
Read Comments

Marhaban yaa Ramadhan

Puasa pada tahun 2011, tepatnya tahun ini adalah puasa yang menurutku penuh dengan ujian dan cobaan tetapi Allah juga memberikan banyak keberkahan dan kebahagiaan.
Banyak sekali yang sudah Allah beri di awal puasa ini (puasa baru beranjak hari ke-5). Ilmu yang baru, perasaan yang selalu dapat membuat ku tersenyum dan tak henti mengucapkan syukur. Puji syukur karna Allah masih memberi umur dan kesehatan yang amat baik hingga saat ini :)
Keluarga, sahabat-sahabat dan juga kekasih ku selalu memberikan kebahagian yag tak henti buatku slelu bersyukur padaNya.
Subhanallah, meskipun menuruttku saat ini kondisi tidak sepenuhnya baik, tetapi masih ada tawa dan kebahagian yang masih bisa kudapatkan. Selalu kupanjatkan doa, agar bisa terus bahagia dan merasakan ini selamanya :)
Read Comments